Rumah Belajar di Obi Selatan Jadi Ruang Harapan Baru bagi Anak-Anak Pelosok - Warta Global Malut

Mobile Menu

More News

logoblog

Rumah Belajar di Obi Selatan Jadi Ruang Harapan Baru bagi Anak-Anak Pelosok

Monday, 4 May 2026

HAL-SEL, WARTAGLOBAL.id – Sore hari di pesisir selatan Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, menghadirkan suasana yang berbeda. Setelah pulang sekolah, anak-anak tampak berbondong-bondong menuju sebuah bangunan sederhana yang kini menjadi pusat aktivitas belajar mereka. Tawa riang pecah di sela kegiatan membaca, mendongeng, dan bermain bersama. Bangunan itu bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan rumah belajar yang perlahan menjadi wajah baru pendidikan di wilayah pelosok.

Di tengah keterbatasan akses pendidikan dan fasilitas penunjang belajar, kehadiran rumah belajar menjadi angin segar bagi masyarakat. Rumah-rumah belajar yang tumbuh di Obi Selatan tidak hanya berfungsi sebagai ruang literasi, tetapi juga menjelma menjadi ruang aman bagi anak-anak, tempat harapan ditanam, dan titik temu sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Momentum Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 menjadi tonggak penting dengan diresmikannya Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk, Kecamatan Obi Selatan oleh Harita Nickel. Kehadiran rumah belajar ini melengkapi dua rumah belajar sebelumnya yang telah lebih dulu hadir di Desa Gambaru dan Desa Oci Maloleo.

Nama Nyinga Moi yang berarti “Satu Hati” dipilih bukan tanpa alasan. Nama tersebut mencerminkan semangat kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun masa depan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Sama seperti Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, ruang ini dirancang dengan konsep inklusif, ramah anak, dan mengedepankan pendekatan belajar yang menyenangkan.

Bagi masyarakat, keberadaan rumah belajar menjadi jawaban atas keresahan para orang tua terhadap perkembangan anak-anak di era digital. Nadia Abdullah, salah satu orang tua di Desa Fluk, mengaku khawatir dengan kebiasaan anak-anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam.“Anak-anak sekarang banyak main HP, jadi kurang fokus belajar. Dengan adanya rumah belajar ini, kami berharap mereka bisa lebih fokus dan punya kegiatan yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan warga Desa Gambaru. Rumah Belajar Simore yang aktif sejak 2024 kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak belajar membaca dan berhitung, sementara para ibu berkumpul, berbagi cerita, dan saling mendukung dalam mengasuh anak.

Dari aktivitas sederhana itu, tumbuh kekuatan sosial yang memperkuat optimisme warga terhadap masa depan generasi muda. Rumah belajar bukan lagi sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang sosial yang menumbuhkan rasa kebersamaan.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sekaligus Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku Utara, Syaiful Bahry, S.Psi., M.A., menilai bahwa keberadaan rumah belajar memiliki dampak yang jauh melampaui pendidikan formal.“Kehadiran ruang publik komunal seperti rumah belajar dapat mereduksi stres, mempererat hubungan sosial, dan menumbuhkan harapan orang tua terhadap anak-anaknya,” ujarnya.

Menurutnya, harapan merupakan komponen penting dalam kesejahteraan psikologis keluarga. Ketika anak-anak memiliki ruang aman untuk belajar dan berkembang, maka orang tua pun memiliki keyakinan bahwa masa depan anak mereka akan lebih baik.

Pendekatan pembelajaran yang diterapkan di rumah belajar juga disesuaikan dengan kebutuhan anak usia dini. Konsep fun learning menjadi kunci utama, di mana anak-anak belajar sambil bermain tanpa tekanan.“Secara psikologis, suasana belajar yang nyaman meningkatkan daya pikir dan memperkuat memori. Anak belajar tanpa takut salah, dan ini penting untuk membangun rasa percaya diri,” kata Syaiful.

Metode pembelajaran juga menghindari perbandingan antar anak. Sebaliknya, setiap anak didorong berkembang sesuai potensinya masing-masing. Aktivitas seperti mendongeng, menggambar, hingga menceritakan kembali pengalaman sehari-hari membantu mereka memahami bahasa, emosi, serta membangun empati sejak dini.

Peran relawan menjadi elemen penting dalam keberhasilan rumah belajar ini. Selain membangun fasilitas fisik, Harita Nickel juga memberikan pembekalan dasar kepada relawan agar mampu mendampingi anak-anak secara psikologis.“Relawan bukan sekadar mengajar membaca, tetapi menjadi figur yang membuat anak merasa dihargai dan aman secara mental,” tambahnya.

Di sisi lain, Harita Nickel menegaskan bahwa pengembangan rumah belajar merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal melalui sektor pendidikan.

Executive Vice President External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, mengatakan program ini merupakan bagian dari Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang bertujuan memperluas akses pendidikan berkualitas di Pulau Obi.“Selain rumah belajar, kami juga memberikan insentif bagi guru bantu, dukungan sarana pendidikan, hingga beasiswa bagi mahasiswa asal Pulau Obi,” ujarnya.

Menurut Latif, pendidikan adalah fondasi utama dalam mendorong kemandirian masyarakat dan keberlanjutan pembangunan jangka panjang.

Meski membawa dampak positif yang besar, tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan rumah belajar agar tidak hanya menjadi program sesaat. Syaiful menekankan pentingnya membangun rasa memiliki pada anak-anak dan orang tua.“Anak-anak perlu merasa memiliki. Hal sederhana seperti menata ruang atau merawat buku bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab,” katanya.

Keterlibatan orang tua juga dinilai sangat penting, termasuk melalui kegiatan diskusi pola asuh dan pendampingan belajar di rumah. Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti di rumah belajar, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Maluku Utara, Mulyadi Tutupoho, turut mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai langkah nyata memperluas akses pendidikan di wilayah terpencil.“Inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya anak-anak di desa,” ujarnya.

Di Pulau Obi, rumah belajar mungkin berdiri sederhana, jauh dari kemegahan gedung sekolah di kota besar. Namun dari ruang-ruang kecil itu, harapan besar sedang dirawat—tentang masa depan anak-anak yang kini memiliki lebih banyak alasan untuk bermimpi, belajar, dan percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.


Redaksi: wan

KALI DIBACA