Jakarta, WartaGlobal.id - Peringatan Hari Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana yang jatuh setiap 13 Oktober menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap ancaman bencana. Dalam rangkaian agenda tersebut, Pimpinan Warta Network, Isbat Usman, dijadwalkan mengikuti kegiatan yang akan diselenggarakan di Sands Expo and Convention Centre, Singapura.
Keikutsertaan Isbat menjadi bagian dari perhatian terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana, termasuk kebakaran dan cuaca panas ekstrem yang berpotensi menimbulkan dampak serius bagi keselamatan manusia, lingkungan, serta perekonomian.
Menurut Isbat, pengurangan risiko bencana tidak boleh hanya menjadi wacana dalam forum atau peringatan tahunan. Diperlukan langkah konkret melalui pencegahan, penguatan sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, dan koordinasi antarpemangku kepentingan.
“Ketika suhu panas meningkat dan risiko kebakaran meluas, kita tidak boleh hanya menunggu sampai api membesar dan menimbulkan korban. Kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini, pengawasan harus diperketat, dan setiap potensi bahaya harus ditangani dengan serius,” tegas Isbat dalam keterangannya.
Dorong Kesadaran dan Mitigasi Bencana
Isbat menilai, kawasan hutan, lahan gambut, perkebunan, hingga permukiman yang rentan membutuhkan perhatian serius, terutama ketika kondisi lingkungan meningkatkan potensi kebakaran.

Ia mendorong pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha memperkuat langkah mitigasi, meningkatkan kesiapan menghadapi keadaan darurat, serta menindak pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara melanggar hukum.
Menurutnya, penanganan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kesadaran untuk mencegah, kemampuan mengenali potensi bahaya, dan ketepatan mengambil tindakan menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko.
Media Memiliki Peran Strategis
Sebagai Pimpinan Warta Network, Isbat juga menyoroti peran media dalam menyampaikan informasi kebencanaan secara cepat, akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
Informasi yang terverifikasi dapat membantu masyarakat memahami risiko serta menentukan langkah keselamatan. Sebaliknya, informasi yang belum teruji kebenarannya berpotensi memicu kepanikan dan mengganggu penanganan keadaan darurat.
“Waspada bukan berarti takut. Siaga bukan berarti panik. Keduanya adalah bentuk tanggung jawab untuk melindungi kehidupan. Jangan menunggu bencana terjadi untuk mulai bersiap,” menjadi pesan yang ditekankan Isbat.
/*Redaksi


.jpg)