Jembatan Akelamo Jadi Urat Nadi Penghubung Ekonomi Soligi Kawasi - Warta Global Malut

Mobile Menu

More News

logoblog

Jembatan Akelamo Jadi Urat Nadi Penghubung Ekonomi Soligi Kawasi

Saturday, 28 February 2026

Hal-Sel, WARTAGLOBAL.id – Penantian panjang warga pesisir barat dan selatan Pulau Obi akhirnya terjawab. Setelah puluhan tahun menghadapi keterisolasian akibat derasnya arus Sungai Akelamo, kini masyarakat Desa Soligi dan Desa Kawasi resmi menikmati akses darat permanen melalui Jembatan Sungai Akelamo yang mulai beroperasi sejak awal 2025. Sabtu, 28/02/2026.


Sungai Akelamo dikenal sebagai sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Obi serta satu-satunya outlet air dari Danau Karo. Perannya vital, namun selama ini menjadi tantangan serius bagi mobilitas warga. Setiap musim hujan tiba, arus sungai yang membesar kerap memutus aktivitas ekonomi. Petani, nelayan, hingga pedagang kecil harus bergantung pada jembatan ponton sederhana yang dioperasikan manual dengan kapasitas terbatas dan risiko keselamatan tinggi.

Kini, jembatan permanen sepanjang 105 meter dengan lebar 20 meter berdiri kokoh, menghubungkan dua desa yang selama ini terpisah oleh aliran sungai. Infrastruktur ini dibangun berkat dukungan Harita Nickel sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam pengembangan wilayah lingkar tambang.

Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengungkapkan perubahan signifikan yang dirasakan warganya. Menurutnya, sebelum ada jembatan, masyarakat harus menunggu arus sungai bersahabat untuk menyeberang. Tidak jarang hasil kebun seperti kelapa, pala, dan sayuran tertahan berhari-hari karena cuaca buruk.

“Dulu warga harus menyesuaikan arus dan cuaca saat menyeberang. Risiko selalu ada, apalagi kalau membawa hasil bumi dalam jumlah banyak. Sekarang akses lebih aman, cepat, dan efisien. Ini juga sangat memudahkan warga menjangkau layanan kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.

Dampak serupa dirasakan masyarakat Desa Kawasi. Kepala Desa Kawasi, Arifin Saroa, menilai jembatan tersebut membuka peluang kolaborasi ekonomi yang lebih luas antarwarga. Ia menyebut, keterbukaan akses darat memungkinkan pedagang dari kedua desa saling berbagi pasar dan memperluas jaringan distribusi.

“Mari kitorang atur baik-baik supaya bisa berjualan bersama. Waina dari Soligi dan Kawasi sekarang bisa kerja sama karena akses darat sudah terbuka. Ini kesempatan besar untuk tingkatkan pendapatan keluarga,” katanya.

Tak hanya pemerintah desa dan warga, keberadaan jembatan ini juga mendapat sorotan positif dari Perkumpulan Telapak. Asesor sosial organisasi tersebut, Mohammad Djufryhard, mengaku merasakan langsung perubahan kondisi infrastruktur di Pulau Obi.

Ia mengenang kunjungannya pada 2023, ketika masih harus menyeberang menggunakan jembatan ponton dengan antrean panjang. Saat kembali pada 2025, ia menyaksikan transformasi akses yang dinilai sangat berdampak terhadap distribusi hasil pertanian dan perikanan.

“Bagi kami ini nilai tambah yang diberikan perusahaan, terutama dalam aspek infrastruktur yang setiap tahun semakin meningkat. Akses yang lebih baik tentu memperkuat rantai ekonomi lokal,” ungkapnya.

Jembatan Akelamo bukan satu-satunya fasilitas yang dibangun. Pada 2024, Harita Nickel juga meresmikan jembatan di dalam kawasan Desa Soligi dengan nilai investasi sekitar Rp1,25 miliar. Kehadiran dua infrastruktur ini mempertegas pergeseran wajah konektivitas darat di wilayah tersebut.

Head of External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi lokal harus berjalan beriringan dengan aktivitas industri.

“Tanpa kolaborasi yang baik dengan masyarakat, pembangunan ini tidak akan terwujud. Kami berkomitmen terus berperan aktif meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar area operasional kami,” tegas Latif.

Kini, Jembatan Akelamo bukan sekadar konstruksi beton dan baja. Ia menjelma menjadi simbol keterhubungan, efisiensi, dan harapan baru. Di atas bentangan 105 meter itu, denyut ekonomi pesisir Obi mulai bergerak lebih cepat—menghubungkan kebun dengan pasar, nelayan dengan pembeli, serta warga dengan layanan dasar yang sebelumnya sulit dijangkau.

Redaksi: wan

KALI DIBACA