
HAL-SEL, WARTAGLOBAL.ID — Di tengah geliat pembangunan yang terus berlangsung, masih ada warga di Kabupaten Halmahera Selatan (HAL-SEL), yang harus menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas. Salah satunya adalah keluarga Mirsan Ahmad (48), warga Desa Labuha, RT/RW 09/04, Kecamatan Bacan, yang hingga kini masih bertahan hidup di sebuah gubuk sederhana yang jauh dari kata layak. Sabtu, 05/09/2026.
Mirsan merupakan seorang janda yang harus membesarkan lima anak seorang diri setelah suaminya meninggal dunia pada 2015. Sejak saat itu, beban kehidupan keluarga tersebut sepenuhnya berada di pundaknya.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat Mirsan bersama anak-anaknya belum mampu memiliki tempat tinggal yang layak. Mereka masih menempati sebuah gubuk berukuran sekitar 3x4 meter yang terbuat dari kayu sederhana.
Sejumlah bagian rumah tersebut bahkan telah mengalami kerusakan dan lapuk dimakan usia. Atapnya masih menggunakan daun sagu yang kondisinya juga tidak lagi baik. Ketika hujan turun, kondisi rumah menjadi semakin memprihatinkan karena air berpotensi masuk melalui bagian atap maupun dinding yang sudah tidak kokoh.
Keterbatasan juga terlihat dari kondisi bagian dalam rumah. Tidak tersedia kamar tidur yang layak sebagaimana rumah pada umumnya. Untuk beristirahat, Mirsan dan anak-anaknya harus tidur dengan kondisi seadanya di atas lantai.
Kondisi kehidupan keluarga tersebut semakin berat setelah Mirsan mengalami kelumpuhan akibat stroke sejak 2023. Penyakit yang dialaminya membuat ruang geraknya terbatas dan menyulitkan dirinya untuk melakukan aktivitas maupun mencari penghasilan seperti sebelumnya.
Dalam kondisi demikian, kebutuhan keluarga sehari-hari tetap harus dipenuhi. Mulai dari makanan, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan kesehatan menjadi persoalan yang harus dihadapi hampir setiap hari.
Untuk bertahan hidup, keluarga Mirsan selama ini mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar secara berkelanjutan.
Persoalan pendidikan anak juga menjadi salah satu dampak paling nyata dari keterbatasan ekonomi yang dialami keluarga tersebut. Dua anak Mirsan disebut telah berhenti sekolah. Bahkan anak bungsunya yang sebelumnya masih duduk di bangku kelas II SMP juga terpaksa tidak melanjutkan pendidikan karena tidak adanya biaya.
Situasi itu menjadi beban tersendiri bagi Mirsan. Sebagai seorang ibu, dirinya berharap anak-anaknya tetap mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Namun, kondisi ekonomi membuat keinginan tersebut belum dapat diwujudkan.
Kepada wartawan Okebaik.id, Mirsan menyampaikan harapannya agar pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian dapat memberikan perhatian kepada keluarganya.
“Saya tidak tahu harus ke mana lagi. Sudah lama sekali kami hidup seperti ini. Anak-anak saya terpaksa tidak sekolah karena tidak ada biaya. Bahkan untuk makan sehari-hari pun sering kali susah,” ujar Mirsan dengan suara terbata-bata.
Menurut pengakuannya, selama ini dirinya juga belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Desa Labuha, baik berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun bantuan sosial lainnya.
Kondisi tersebut membuat keluarga Mirsan berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan. Harapan itu secara khusus ditujukan kepada Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba agar kondisi yang mereka alami dapat menjadi perhatian pemerintah daerah.
Bagi keluarga Mirsan, bantuan yang dibutuhkan bukan hanya berupa uang tunai. Perbaikan rumah menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar mereka dapat tinggal di tempat yang lebih aman dan layak.
Selain tempat tinggal, dukungan terhadap pendidikan anak-anak juga sangat diharapkan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu semestinya tetap mendapatkan kesempatan untuk bersekolah tanpa harus terhambat oleh persoalan biaya.
Akses terhadap pelayanan kesehatan juga menjadi kebutuhan penting, terutama bagi Mirsan yang mengalami kelumpuhan akibat stroke. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan pendampingan agar dirinya dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara layak.
Kisah keluarga Mirsan menjadi gambaran bahwa di tengah berbagai program pembangunan dan bantuan sosial yang terus digulirkan, masih terdapat warga yang membutuhkan perhatian lebih serius. Karena itu, pendataan dan penyaluran bantuan yang tepat sasaran menjadi penting agar tidak ada keluarga rentan yang luput dari perhatian.
Mirsan kini hanya bisa berharap ada tangan-tangan yang peduli terhadap kondisi keluarganya. Harapan tersebut bukan semata untuk memperbaiki rumah yang mereka tempati, tetapi juga agar anak-anaknya dapat kembali memperoleh pendidikan dan keluarganya bisa menjalani kehidupan yang lebih layak.
Di sebuah gubuk kecil berukuran sekitar 3x4 meter itu, Mirsan bersama lima anaknya masih terus bertahan. Keterbatasan ekonomi tidak membuat harapan mereka padam. Mereka hanya menunggu perhatian dan kepedulian, terutama dari pemerintah daerah, agar kehidupan yang selama ini penuh keterbatasan perlahan dapat berubah menjadi lebih baik.
Redaksi: wan

.jpg)