Hal-Sel, WARTAGLOBAL.id — Di balik gemerlap aktivitas pertambangan yang terus mengalirkan hasil bumi dari wilayah Obi, realitas pahit masih harus ditelan sebagian warga kecil. Desa Laiwui, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, yang dikenal sebagai daerah dengan limpahan sumber daya alam, ternyata masih menyimpan kisah pilu tentang perjuangan hidup seorang lansia yang bertahan di tengah keterbatasan. Jumat, 06/02/2026.
Musa Lajuani (83), warga asli Desa Laiwui, yang hingga kini harus mengandalkan langkah kaki untuk menyambung hidup. Di usia senja yang seharusnya diisi dengan istirahat dan perhatian keluarga, Musa justru masih berkeliling dari desa ke desa menjajakan jualan lampu demi mendapatkan uang receh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap hari, dengan tubuh yang kian rapuh dimakan usia, Musa berjalan menyusuri Desa Laiwui hingga enam desa tetangga. Lampu-lampu yang ia jual diambil dari seorang langganan yang akrab disapa “Papa”, kemudian dijajakan kembali dari rumah ke rumah. Dari hasil penjualan itulah Musa berharap bisa membeli beras, gula, dan kebutuhan pokok lainnya untuk bertahan hidup.
“Kadang laku, kadang tidak. Kalau tidak laku, saya pulang dengan tangan kosong,” ujar Musa lirih saat ditemui warga. Meski langkahnya tertatih dan suaranya lemah, semangat hidupnya masih bertahan, meski sering kali dibalut rasa lelah dan kesepian.
Tidak jarang Musa harus berjalan berjam-jam di bawah terik matahari maupun hujan. Satu atau dua buah lampu yang terjual sudah dianggap cukup untuk menyambung hidup dalam sehari. Namun, kondisi fisik yang semakin menurun membuat perjuangan tersebut terasa kian berat dari waktu ke waktu.
Ironisnya, kisah Musa berlangsung di tengah wilayah yang setiap harinya disesaki lalu lalang kendaraan pengangkut hasil tambang. Aktivitas ekonomi berskala besar itu belum sepenuhnya memberi dampak nyata bagi warga kecil sepertinya. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, ditambah daya beli masyarakat yang tidak menentu, semakin mempersempit ruang hidup bagi lansia yang tidak memiliki penopang ekonomi tetap.
Warga sekitar mengaku prihatin dengan kondisi Musa. Ia diketahui hidup sebatang kara tanpa pendamping tetap. Bantuan sosial yang seharusnya menyasar warga lanjut usia dinilai belum maksimal menjangkau dirinya. Meski beberapa warga kerap membantu secara sukarela, bantuan tersebut belum mampu mengubah kondisi hidup Musa secara signifikan.“Kalau ada yang beli lampunya, kami kadang tambah kasih sedikit. Tapi itu tidak cukup untuk jangka panjang,” ujar salah seorang warga Desa Laiwui.
Di sela-sela perbincangan dengan warga dan media, Musa menuturkan kisah pilu yang menyayat hati. Pria kelahiran 1944 itu mengaku memiliki tujuh orang anak. Namun, dari ketujuh anak tersebut, hanya dua yang masih memperhatikannya. Salah satu anak perempuannya, anak kelima, telah meninggal dunia. Sementara anak keenam masih memberikan perhatian, meski berada jauh di medan perjuangan dan hanya sesekali mengirimkan bantuan.
Kisah Musa Lajuani menjadi potret nyata ketimpangan sosial di wilayah yang kaya sumber daya alam. Di balik geliat pertambangan dan pertumbuhan ekonomi yang masif, masih ada lansia yang bertarung sendirian melawan usia dan keadaan. Warga berharap pemerintah desa, kecamatan hingga kabupaten dapat memberi perhatian serius melalui program perlindungan sosial yang tepat sasaran, agar Musa dan lansia lainnya dapat menikmati masa tua dengan lebih layak dan manusiawi.
Redaksi: wan
KALI DIBACA