Malut, WARTAGLOBAL.id – Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Letaknya yang berada di jalur cincin api Pasifik menjadikan kawasan ini rawan terhadap berbagai potensi bencana alam, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga aktivitas gunung api aktif seperti Gunung Gamalama, Gunung Ibu, Gamkonora, Dukono, dan Gunung Kie Besi. Selain itu, meningkatnya intensitas hujan ekstrem dalam beberapa tahun terakhir juga memicu potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Jumat, 06/03/2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 76 kejadian bencana hidrometeorologi terjadi di 48 kecamatan di Provinsi Maluku Utara sepanjang semester pertama tahun 2025. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Halmahera Selatan menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan, dengan total 19 kejadian bencana tercatat.
Kepala BNPB Halmahera Selatan, Suharyanto, menegaskan bahwa kondisi geografis Maluku Utara memang memiliki risiko bencana yang tinggi. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan harus memiliki kesiapsiagaan yang kuat dalam menghadapi potensi bencana, tanpa menunggu jatuhnya korban baru kemudian mengambil tindakan.
“Di balik keindahan alam Maluku Utara, terdapat potensi bencana yang cukup besar. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari sistem yang terus dibangun secara bersama,” ujarnya.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Program
Menyadari kompleksitas risiko bencana di wilayah operasionalnya, Harita Nickel mengambil langkah strategis dengan menjadikan aspek keselamatan masyarakat sebagai bagian penting dari komitmen keberlanjutan perusahaan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Harita Nickel menjalin kemitraan dengan kalangan akademisi melalui Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) untuk melakukan kajian ilmiah terkait potensi bahaya di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Ketua DRRC UI, Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa pengelolaan risiko bencana merupakan elemen penting dalam operasional industri, khususnya bagi sektor pertambangan yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
“Pengelolaan bencana merupakan bagian dari implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Berdasarkan kajian yang dilakukan, Desa Kawasi di Pulau Obi teridentifikasi memiliki kerentanan terhadap beberapa ancaman, seperti gempa bumi, angin kencang, ombak besar hingga potensi tsunami,” jelasnya.
Menindaklanjuti hasil kajian tersebut, Harita Nickel kemudian meluncurkan program Pelatihan Siaga Bencana bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Occupational Health and Safety (OHS) Manager Harita Nickel, Supriyanto Suwarno, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan melalui penguatan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH).
Menurutnya, komitmen perusahaan tidak hanya terbatas pada keselamatan pekerja, tetapi juga mencakup perlindungan masyarakat yang tinggal di sekitar area operasional.
Puncak kegiatan ini dilaksanakan pada Desember 2025 melalui pelatihan tanggap bencana intensif di Desa Kawasi, Pulau Obi. Sebanyak 51 warga dilibatkan dalam simulasi yang dirancang menyerupai kondisi darurat sebenarnya, termasuk pelatihan pemadaman api dini, prosedur evakuasi mandiri, hingga penanganan situasi darurat di tingkat komunitas.
“Dalam kegiatan ini kami juga membentuk Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang nantinya menjadi garda terdepan dalam penanganan keadaan darurat di tingkat desa,” ungkap Supriyanto.
Uji Praktik di Lokasi Bencana
Sistem kesiapsiagaan yang telah dibangun tersebut tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan. Implementasi nyata langsung terlihat ketika banjir besar melanda Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, pada Januari lalu.
Dalam situasi tersebut, Harita Nickel segera mengaktifkan Emergency Response Team (ERT) untuk membantu warga yang terdampak. Tim ini diterjunkan langsung ke lokasi guna membantu proses evakuasi barang milik warga serta membersihkan puing-puing pasca banjir.
Di Desa Tongute Ternate, kondisi warga saat itu cukup memprihatinkan. Merespons hal tersebut, perusahaan memprioritaskan layanan kesehatan dengan mengirimkan dua tenaga paramedis untuk memberikan pemeriksaan medis gratis kepada warga terdampak. Selain itu, ratusan paket bantuan kesehatan juga disalurkan kepada masyarakat.
Tidak hanya layanan medis, bantuan logistik juga turut diberikan untuk mendukung kebutuhan warga di pengungsian. Bantuan tersebut meliputi matras, beras, mi instan, serta air mineral yang diperuntukkan bagi sekitar 1.593 jiwa yang terdampak banjir.
Camat Ibu, Warjin Hi Soleman, mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Harita Nickel. Menurutnya, kehadiran tim medis serta bantuan perlengkapan tidur sangat membantu menjaga stabilitas kondisi warga di pengungsian.
Senada dengan itu, Kepala BPBD Halmahera Barat, Gunawan MT Ali, juga memberikan apresiasi atas koordinasi yang dilakukan perusahaan dalam proses penyaluran bantuan.
Aksi tanggap bencana Harita Nickel juga menjangkau wilayah lain, termasuk Desa Yaba di Kabupaten Halmahera Selatan yang turut terdampak banjir.
Berbeda dengan penanganan di Kecamatan Ibu yang berfokus pada aspek kesehatan, bantuan di Desa Yaba diarahkan pada pemulihan infrastruktur permukiman warga. Dalam hal ini, perusahaan menyalurkan 400 sak semen serta 150 lembar seng guna membantu perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan berat akibat banjir.
Salah seorang warga Desa Yaba, Yohan Galela, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan. Ia mengatakan dukungan tersebut sangat berarti bagi warga yang sedang berupaya memulihkan kondisi tempat tinggal mereka.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan ini. Semen dan seng yang diberikan akan kami gunakan untuk memperbaiki fondasi dan dinding rumah yang rusak akibat banjir,” ujarnya.
Melalui kombinasi antara edukasi, simulasi, serta aksi nyata di lapangan, Harita Nickel menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan melalui sistem yang terbangun secara berkelanjutan bersama masyarakat.
Redaksi: wan
KALI DIBACA