Hal-Sel, WARTAGLOBAL.id - Di bawah langit cerah Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, seorang pemuda berdiri dengan raut wajah yang sulit menyembunyikan rasa haru. Kasman La Jaani (18), pemuda asli Desa Soligi, menggenggam erat sebuah sertifikat yang baru saja ia terima. Bagi sebagian orang, selembar kertas itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi Kasman, sertifikat kelulusan program vokasi Bahasa Mandarin yang digelar Harita Nickel pada Kamis, 27 November 2025, adalah simbol kemenangan atas keterbatasan hidup yang hampir mematahkan mimpinya.
Kasman bukan berasal dari keluarga berada. Sejak usia muda, ia telah dihadapkan pada pilihan sulit: melanjutkan pendidikan atau membantu keluarga mencari nafkah. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuatnya kerap berpikir realistis, bahkan pesimistis. Saat bergabung dalam Program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) angkatan ke-3, harapan itu sempat tumbuh, meski dibayangi keraguan besar. Rabu, 21/01/2026.
Program PELITA merupakan hasil kolaborasi antara Harita Nickel dan lembaga IndoPanda, yang dirancang untuk membekali pemuda desa lingkar tambang dengan keterampilan vokasi, salah satunya Bahasa Mandarin. Program ini berlangsung intensif selama enam bulan dan menuntut komitmen tinggi dari para peserta. Bagi Kasman, tantangan bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga jarak dan kondisi alam. Medan berat Soligi–Kawasi harus ia tempuh hampir setiap hari, melelahkan fisik sekaligus mental.
Namun ujian terberat justru datang dari rumah. Sebagai anak yang menjadi tumpuan harapan keluarga, Kasman dilanda dilema mendalam. Keinginan membantu orang tua membuatnya hampir menyerah. “Awalnya berat sekali. Saya merasa tidak sanggup dan ingin berhenti saja,” ujar Kasman mengenang masa-masa sulit itu. Ia sempat berpikir untuk meninggalkan bangku pelatihan dan memilih bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Niat tersebut terdengar hingga ke telinga tim Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel. Alih-alih membiarkan Kasman mundur, tim CSR memilih pendekatan yang lebih manusiawi. Mereka mendatangi langsung rumah Kasman di Desa Soligi, berdialog secara kekeluargaan dengan orang tua dan memberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan keterampilan jangka panjang.
“Kami melihat Kasman sebagai potensi besar. Sayang sekali jika ia berhenti di tengah jalan hanya karena tekanan ekonomi,” ujar Community Development Supervisor Harita Nickel, Ragil Pardiantoro. Menurutnya, penguasaan Bahasa Mandarin merupakan peluang strategis bagi pemuda lokal untuk bersaing di industri global.
Pendekatan penuh empati itu menjadi titik balik. Dukungan orang tua kembali mengalir, membangkitkan semangat Kasman yang sempat redup. Ia pun melanjutkan program dengan tekad baru. Hasilnya tidak main-main. Dari 30 peserta awal, hanya 22 orang yang mampu bertahan hingga akhir. Kasman bahkan berhasil mencatatkan diri sebagai lulusan terbaik kedua.
Prestasi tersebut membuktikan bahwa pemuda lingkar tambang bukan sekadar penonton di tanah sendiri. Melalui program PELITA, mereka mampu bertransformasi menjadi sumber daya manusia yang kompeten dan siap bersaing. Bagi Kasman, hari wisuda bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan baru.
“Saya percaya skill Bahasa Mandarin ini bisa membawa masa depan yang lebih cerah untuk saya dan keluarga,” tuturnya optimistis. Dari Pulau Obi, Kasman La Jaani telah membuktikan bahwa mimpi tetap bisa dijemput, bahkan di tengah himpitan ekonomi.
Redaksi:wan
KALI DIBACA