Petani Milenial Obi Pasok Puluhan Ton Buah dan Sayur ke Harita Nickel - Warta Global Malut

Mobile Menu

More News

logoblog

Petani Milenial Obi Pasok Puluhan Ton Buah dan Sayur ke Harita Nickel

Wednesday, 11 February 2026

Hal-Sel, WARTAGLOBAL.id - Di tengah geliat industri pertambangan yang terus berkembang di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, sebuah gerakan kedaulatan pangan justru tumbuh dari tangan seorang pemuda lokal, Darwan Aduhasan (33). Melalui inisiatif bertajuk “Petani Milenial”, Darwan membuktikan bahwa sektor pertanian dan pertambangan tidak harus saling menegasikan, melainkan dapat berjalan beriringan dan berkolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang. Rabu, 11/02/2026.


Darwan yang merupakan sarjana komunikasi memilih jalan berbeda dari kebanyakan pemuda Obi. Di saat banyak generasi muda berlomba-lomba masuk ke perusahaan tambang, ia justru memutuskan “meletakkan” ijazahnya dan kembali mengolah lahan pertanian keluarga di Desa Buton, Kecamatan Obi. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia melihat potensi pertanian di wilayah tersebut masih sangat besar dan belum tergarap maksimal.

“Saya melihat potensi pertanian di wilayah ini sangat besar. Keluarga kami selama 15 tahun bisa bertahan hidup, bahkan membiayai sekolah hingga sarjana, murni dari hasil pertanian dan hortikultura. Sedangkan kehadiran industri telah membuka jalan kolaborasi yang sangat membantu kami untuk ketersediaan pasar,” ujar Darwan saat ditemui di lahan semangkanya.

Berbekal keyakinan tersebut, Darwan membentuk kelompok tani bernama PELANGI (Petani yang Menjunjung Tinggi Nilai Persatuan dan Gotong Royong). Kelompok ini menjadi pelopor gerakan kedaulatan pangan di lingkar tambang dengan misi mengubah pola pikir masyarakat, khususnya pemuda, bahwa bekerja layak dan bermartabat tidak hanya terbatas di area perusahaan tambang.

Sejak berdiri, PELANGI aktif mendorong pemuda desa untuk kembali menggarap lahan tidur. Dari yang awalnya hanya segelintir orang, kini puluhan petani bergabung dan mengelola komoditas hortikultura, terutama semangka. Kolaborasi nyata antara petani dan perusahaan mulai menguat sejak 2022 melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Harita Nickel.

Berawal dari lahan seluas dua hektare, kelompok tani binaan Darwan seperti Kelompok Tani Daun Hijau dan Cempaka berhasil memanen masing-masing 7 hingga 8 ton semangka per hektare. Hasil tersebut menjadi bukti bahwa pertanian di wilayah lingkar tambang tetap produktif dan berdaya saing.

Menariknya, sejak 2024 Harita Nickel mendorong para petani untuk beralih sepenuhnya ke sistem pertanian organik. Melalui pendampingan tim CSR perusahaan, para petani dilatih memproduksi pupuk kompos mandiri serta pestisida nabati. Perubahan sistem ini sempat menuntut proses adaptasi, namun hasilnya dinilai jauh lebih efisien.

“Kami dibimbing untuk memproduksi pupuk dan pestisida alami. Hasilnya, meski sempat ada penyesuaian produksi, biaya modal kami turun drastis. Dengan modal hanya Rp250.000, kami bisa memanen 2,75 ton semangka organik murni,” jelas Darwan yang juga merupakan peraih Penghargaan Pengembangan Desa Berkelanjutan 2024 dari Kementerian Desa.

Seluruh hasil panen tersebut kini rutin didistribusikan ke katering Harita Nickel untuk dikonsumsi oleh ribuan karyawan perusahaan. Skema ini menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan. Perusahaan memperoleh pasokan pangan segar dan sehat dari petani lokal, sementara petani mendapatkan kepastian pasar serta harga yang stabil.

Program perluasan lahan pun terus dilakukan. Dari yang semula hanya 28 orang petani aktif, Darwan menargetkan pada 2026 mendatang akan ada 100 petani yang terlibat dalam pengelolaan sawah, hortikultura, hingga pengembangan buah-buahan seperti semangka dan komoditas pangan lainnya.

Di tengah stigma bahwa daerah tambang identik dengan ketergantungan pada sektor ekstraktif, gerakan PELANGI menjadi bukti bahwa kedaulatan pangan tetap bisa tumbuh dan berkembang. “Harapan saya melalui program PELANGI, masyarakat sadar bahwa sektor pertanian mampu menghidupi kehidupan secara layak dan berkelanjutan, bahkan di daerah yang dikenal sebagai pusat pertambangan,” pungkas Darwan optimistis.

Redaksi: wan

KALI DIBACA